tanabata

Tanabata Matsuri

bernadette – tokyo

Tanggal 7 Juli tiap tahun merupakan perayaan Tanabata.

Menurut Mbah wiki :

“Tanabata (七夕, tanabata?, meaning “Evening of the seventh”) is a Japanese star festival, derived from the Chinese star festival, Qi Xi (七夕 “The Night of Sevens”).

It celebrates the meeting of Orihime (Vega) and Hikoboshi (Altair). According to legend, the Milky Way, a river made from stars that crosses the sky, separates these lovers, and they are allowed to meet only once a year on the seventh day of the seventh lunar month of the lunisolar calendar. The celebration is held at night. “

Untuk merayakannya ada Tanabata Matsuri di Hiratsuka, provinsi Kanagawa.  Festival / Matsuri ini berlangsung dari tanggal 1 – 4 Juli kemaren dengan memasang banyak sekali lampion-lampion di sepanjang jalan, ada bambu untuk menggantung kertas bertuliskan doa & keinginan-keinginan kita, dan tidak lupa warung2 makanan dan minuman yang menyediakan makanan dari Okonimiyaki, Takoyaki, Yakisoba, Sosis bakar, Jagung Bakar, Bir, Softdrink, dkk.  Pada malam hari lampion2 ini akan dinyalakan lampunya sehingga sangat indah sekali.

Nadette mengunjungi perayaan ini tgl 4 kemaren bersama teman-teman dan pertama kalinya mengunjungi perayaan tanabata.  Perayaan Tanabata di Hiratsuka ini cukup terkenal di Tokyo dan Kanagawa dan sudah berlangsung selama 60 tahun.

Oh ya, Di matsuri-matsuri yang berlangsung di musim panas ini, banyak sekali orang-orang yang memakai yukata * pakaian tradisional Jepang untuk musim panas* serta hakama untuk para laki2 nya.

Yap.. mari kita lihat foto2 nya.. ^^

Pic info :

Pic 1 : Welcome to Hiratsuka Tanabata Matsuri

Pic 2 : Tidak tua dan muda memakai Yukata.. jgn lupa tulis doa dan wish anda di kertas, gantung di sini

Pic 3 : Kakek penabur bunga, One Piece, dan momotaro ( ?? ) tidak mau ketinggalan

Pic 4 : Lapar ? Haus ? belilah makanan anda di lapak-lapak di sepanjang jalan ini

Pic 5, 6 : Lampion-lampion

Pic 7 : Lampion dari Burung origami, botol plastik bekas, boneka kain

Pic 8 :  Kalo ini Lani san tau ya artinya ?? Bahasa Hawaii deh harusnya

Pic 9 :  60 years of Hiratsuka Tanabata Festival

Pic 10. 11 : Lights up at night

Tanabata Matsuri

Post Admin on Sun Sep 27, 2009 12:50 pm

Tanabata atau Festival Bintang adalah salah satu perayaan yang berkaitan dengan musim di Jepang, Tiongkok, dan Korea. Perayaan besar-besaran dilakukan di kota-kota di Jepang, termasuk di antaranya kota Sendai dengan festival Sendai Tanabata. Di Tiongkok, perayaan ini disebut Qi Xi.
Tanggal festival Tanabata dulunya mengikuti kalender lunisolar yang kira-kira sebulan lebih lambat daripada kalender Gregorian. Sejak kalender Gregorian mulai digunakan di Jepang, perayaan Tanabata diadakan malam tanggal 7 Juli, hari ke-7 bulan ke-7 kalender lunisolar, atau sebulan lebih lambat sekitar tanggal 8 Agustus.
Aksara kanji yang digunakan untuk menulis Tanabata bisa dibaca sebagai shichiseki (七夕 ?, malam ke-7). Di zaman dulu, perayaan ini juga ditulis dengan aksara kanji yang berbeda, tapi tetap dibaca Tanabata (棚機 ?). Tradisi perayaan berasal dari Tiongkok yang diperkenalkan di Jepang pada zaman Nara.
Tanabata diperkirakan merupakan sinkretisme antara tradisi Jepang kuno mendoakan arwah leluhur atas keberhasilan panen dan perayaan Qi Qiao Jie asal Tiongkok yang mendoakan kemahiran wanita dalam menenun. Pada awalnya Tanabata merupakan bagian dari perayaan Obon, tapi kemudian dijadikan perayaan terpisah. Daun bambu (sasa) digunakan sebagai hiasan dalam perayaan karena dipercaya sebagai tempat tinggal arwah leluhur.
Legenda Qi Xi pertama kali disebut dalam literatur Gushi shijiu shou (古詩十九編, 19 puisi lama) asal Dinasti Han yang dikumpulkan kitab antologi Wen Xuan (文選). Selain itu, Qi Xi juga tertulis dalam kitab Jing-Chu suishi ji (荊楚歲時記, festival dan tradisi tahunan wilayah Jing-Chu) dari zaman Dinasti Utara dan Selatan, dan kitab Catatan Sejarah Agung. Literatur Jing-Chu suishi ji mengisahkan para wanita memasukkan benang berwarna-warni indah ke lubang 7 batang jarum pada malam hari ke-7 bulan ke-7 yang merupakan malam bertemunya Qian Niu dan Zhi Nu, dan persembahan diletakkan berjajar di halaman untuk memohon kepandaian dalam pekerjaan menenun.
Legenda asli Jepang tentang Tanabatatsume dalam kitab Kojiki mengisahkan seorang pelayan wanita (miko) bernama Tanabatatsume yang harus menenun pakaian untuk dewa di tepi sungai, dan menunggu di rumah menenun untuk dijadikan istri semalam sang dewa agar desa terhindar dari bencana. Perayaan Qi Xi dihubungkan dengan legenda Tanabatatsume, dan nama perayaan diubah menjadi “Tanabata”. Di zaman Nara, perayaan Tanabata dijadikan salah satu perayaan di istana kaisar yang berhubungan dengan musim. Di dalam kitab antologi puisi waka berjudul Man’yōshū terdapat puisi tentang Tanabata karya Ōtomo no Yakamochi dari zaman Nara. Setelah perayaan Tanabata meluas ke kalangan rakyat biasa di zaman Edo, tema perayaan bergeser dari pekerjaan tenun menenun menjadi kepandaian anak perempuan dalam berbagai keterampilan sebagai persiapan sebelum menikah.
Perayaan dilakukan di malam ke-6 bulan ke-7, atau pagi di hari ke-7 bulan ke-7. Sebagian besar upacara dimulai setelah tengah malam (pukul 1 pagi) di hari ke-7 bulan ke-7. Di tengah malam bintang-bintang naik mendekati zenith, dan merupakan saat bintang Altair, bintang Vega, dan galaksi Bima Sakti paling mudah dilihat.
Kemungkinan hari cerah pada hari ke-7 bulan ke-7 kalender Tionghoa lebih besar daripada 7 Juli yang masih merupakan musim panas. Hujan yang turun di malam Tanabata disebut Sairuiu (洒涙雨 ?), dan konon berasal dari air mata Orihime dan Hikoboshi yang menangis karena tidak bisa bertemu.
Festival Tanabata dimeriahkan tradisi menulis permohonan di atas tanzaku atau secarik kertas berwarna-warni. Tradisi ini khas Jepang dan sudah ada sejak zaman Edo. Kertas tanzaku terdiri dari 5 warna (hijau, merah, kuning, putih, dan hitam). Di Tiongkok, tali untuk mengikat terdiri dari 5 warna dan bukan kertasnya. Permohonan yang dituliskan pada tanzaku bisa bermacam-macam sesuai dengan keinginan orang yang menulis.
Kertas-kertas tanzaku yang berisi berbagai macam permohonan diikatkan di ranting daun bambu membentuk pohon harapan di hari ke-6 bulan ke-7. Orang yang kebetulan tinggal di dekat laut mempunyai tradisi melarung pohon harapan ke laut sebagai tanda puncak perayaan, tapi kebiasaan ini sekarang makin ditinggalkan orang karena hiasan banyak yang terbuat dari plastik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Blog Stats

    • 12,107 hits
  • Tulisan Teratas

  • author grid

%d blogger menyukai ini: